KECEWA
Fey memastikan dirinya tampil rapi di kencan pertamanya. Ia memutuskan untuk menggelung rambutnya dan membiarkan anak-anak rambut menjuntai di bawah telinganya. Jantungnya berdetak lebih kencang tiap ada sosok yang mirip Michael tampak di kantin. Senyumnya yang hampir merekah harus dibungkus kembali.
Menit-menit berlalu. Dua gelas jus alpukat sudah diteguknya. 'Ah, di mana kamu, Michael?'' batin Fey. Tanpa terasa sudah satu jam gadis itu menanti. 'Apa dia lupa, yah?' Fey terus berkutat dengan segala kemungkinan alasan.
Akhirnya Fey menyerah. Ia bangkit dari kursi kayu yang menjadi saksi bisu kekecewaannya. 'Berani sekali ia memperlakukan aku seperti ini!' Fey marah. Dilepaskannya gelungan rambutnya. Rambut pirang itu kini tergerai, berkibar-kibar ketika ia melangkah. Genderang perang telah ditabuh.
Selasa, 14 April 2020
DERITA
DERITA
Michael menyampirkan tas sekolah di bahunya. Kakinya melangkah ringan melewati teras rumah mungil yang dihuninya bersama sang kakak. "Hari ini, tidak usah ke sekolah. Bantu Kakak di bengkel. Banyak kerjaan!" John menghentikan sang adik. Lelaki tambun berusia tiga puluhan itu terlihat dekil dengan noda oli di sana-sini.
"Hari ini aku tidak bisa, Kak." Michael menjawab, setengah berbisik. Ia teringat akan Fey. Gadis keras kepala itu pasti akan sangat kecewa. "Apa katamu?" John menghardik. "Kau pikir, bisa seenaknya sekolah dan aku harus susah-payah membiayaimu?" teriak John penuh amarah. "Aku sudah terlalu sering absen, Kak. Aku akan tetap ke sekolah!"
John berbalik dan menghantam wajah Michael. Darah mengucur dari pelipisnya. "Berani melawan, hah?" Michael meringis menahan sakit. Darah membasahi seragam sekolahnya. Tangannya terkepal, menahan emosi. " Sekarang kau punya alasan bagus untuk tidak ke sekolah!" John tertawa mengejek.
Michael menyampirkan tas sekolah di bahunya. Kakinya melangkah ringan melewati teras rumah mungil yang dihuninya bersama sang kakak. "Hari ini, tidak usah ke sekolah. Bantu Kakak di bengkel. Banyak kerjaan!" John menghentikan sang adik. Lelaki tambun berusia tiga puluhan itu terlihat dekil dengan noda oli di sana-sini.
"Hari ini aku tidak bisa, Kak." Michael menjawab, setengah berbisik. Ia teringat akan Fey. Gadis keras kepala itu pasti akan sangat kecewa. "Apa katamu?" John menghardik. "Kau pikir, bisa seenaknya sekolah dan aku harus susah-payah membiayaimu?" teriak John penuh amarah. "Aku sudah terlalu sering absen, Kak. Aku akan tetap ke sekolah!"
John berbalik dan menghantam wajah Michael. Darah mengucur dari pelipisnya. "Berani melawan, hah?" Michael meringis menahan sakit. Darah membasahi seragam sekolahnya. Tangannya terkepal, menahan emosi. " Sekarang kau punya alasan bagus untuk tidak ke sekolah!" John tertawa mengejek.
JANJI
JANJI
Mereka berjalan berdampingan. Fey dengan rambut pirangnya yang dibiarkan tergerai dan Michael yang berambut hitam legam. Sebuah perpaduan perbedaan yang elegan. Dua menit terdiam. "Seharusnya kamu sekarang bicara, kapan kita akan bertemu lagi." Fey memecah kesunyian. Michael berhenti melangkah. Memandang Fey penuh ragu.
"Bagaimana kalau kita bertemu lagi, besok, jam sepuluh. Aku tunggu di kantin, yah!" Fey tersenyum melihat keraguan di mata Michael. "Bagaimana, kamu bisa?" cecar gadis itu lagi. "Ya ... tentu saja. Aku bisa. Aku akan ada di sana, hmm ... tepat waktu." Michael mengangkat ujung bibirnya membentuk senyuman.
Fey bergabung dengan sahabat-sahabatnya. Ia sempat menoleh ke arah Michael. "Hey, hmm ... aku penasaran. Dari mana kamu tahu namaku?" teriak Michael. "Itu mudah. Bye ... " jawab Fey sambil melambaikan tangannya.
Mereka berjalan berdampingan. Fey dengan rambut pirangnya yang dibiarkan tergerai dan Michael yang berambut hitam legam. Sebuah perpaduan perbedaan yang elegan. Dua menit terdiam. "Seharusnya kamu sekarang bicara, kapan kita akan bertemu lagi." Fey memecah kesunyian. Michael berhenti melangkah. Memandang Fey penuh ragu.
"Bagaimana kalau kita bertemu lagi, besok, jam sepuluh. Aku tunggu di kantin, yah!" Fey tersenyum melihat keraguan di mata Michael. "Bagaimana, kamu bisa?" cecar gadis itu lagi. "Ya ... tentu saja. Aku bisa. Aku akan ada di sana, hmm ... tepat waktu." Michael mengangkat ujung bibirnya membentuk senyuman.
Fey bergabung dengan sahabat-sahabatnya. Ia sempat menoleh ke arah Michael. "Hey, hmm ... aku penasaran. Dari mana kamu tahu namaku?" teriak Michael. "Itu mudah. Bye ... " jawab Fey sambil melambaikan tangannya.
MICHAEL
MICHAEL
Fey menjatuhkan pensilnya. Alat tulis berwarna -warni itu bertebaran di sekitarnya. Lewat ujung mata, Fey memastikan dirinya berada dalam jarak pandang lelaki tampan itu.
Seperti dugaannya, lelaki bertubuh atletis itu segera melesat ke arahnya. Membantu memunguti pensilnya. "Sudah semuanya?" tanyanya ramah. Fey mengangguk. " Terima kasih, yah," kata Fey sambil tersenyum. Si tampan masih diam. Hanya menatapnya dengan memuja. 'Katakan sesuatu ...,' batin Fey memohon.
"Kamu, Michael, bukan?" sembur Fey akhirnya. "Ya ... ak ...aku tidak terbiasa bicara dengan gadis secantik dirimu," jawabnya sambil mengembuskan napas lega. Fey tersenyum bahagia. "Kalau begitu, kamu dengar saja. Biar aku yang bicara."
Fey menjatuhkan pensilnya. Alat tulis berwarna -warni itu bertebaran di sekitarnya. Lewat ujung mata, Fey memastikan dirinya berada dalam jarak pandang lelaki tampan itu.
Seperti dugaannya, lelaki bertubuh atletis itu segera melesat ke arahnya. Membantu memunguti pensilnya. "Sudah semuanya?" tanyanya ramah. Fey mengangguk. " Terima kasih, yah," kata Fey sambil tersenyum. Si tampan masih diam. Hanya menatapnya dengan memuja. 'Katakan sesuatu ...,' batin Fey memohon.
"Kamu, Michael, bukan?" sembur Fey akhirnya. "Ya ... ak ...aku tidak terbiasa bicara dengan gadis secantik dirimu," jawabnya sambil mengembuskan napas lega. Fey tersenyum bahagia. "Kalau begitu, kamu dengar saja. Biar aku yang bicara."
FEY
FEY
Gadis berlesung pipi itu tampak bersinar di bawah mentari. Rambutnya yang pirang terlihat menyilaukan. Ia sedang berbincang dengan teman-temannya. Michael berdebar memandangnya. 'Ah, dia sungguh memesona,' batin lelaki tampan yang pemalu itu.
Leni yang tampak kikuk, melewati kumpulan sahabat itu dan menjatuhkan buku-bukunya. Tawa berderai menyambutnya. Tak ada yang menolongnya. Michael segera menolong si gadis. "Jadi, kalian tidak mau menolongnya?" tanya Michael. Semua diam sejenak, kemudian mengejeknya. "Urus saja urusanmu sendiri, Bro!"
Hanya Si Pirang yang datang membantu. Leni mengucapkan terima kasih pada keduanya dan berlalu. "Hai, aku Fey," kata gadis itu. Michael hanya memandangnya tanpa berkedip. Mulutnya terkunci. Selalu begitu jika di depan gadis yang disukainya. "Sampai nanti." Akhirnya Fey pun berlalu dengan kening berkerut.
Gadis berlesung pipi itu tampak bersinar di bawah mentari. Rambutnya yang pirang terlihat menyilaukan. Ia sedang berbincang dengan teman-temannya. Michael berdebar memandangnya. 'Ah, dia sungguh memesona,' batin lelaki tampan yang pemalu itu.
Leni yang tampak kikuk, melewati kumpulan sahabat itu dan menjatuhkan buku-bukunya. Tawa berderai menyambutnya. Tak ada yang menolongnya. Michael segera menolong si gadis. "Jadi, kalian tidak mau menolongnya?" tanya Michael. Semua diam sejenak, kemudian mengejeknya. "Urus saja urusanmu sendiri, Bro!"
Hanya Si Pirang yang datang membantu. Leni mengucapkan terima kasih pada keduanya dan berlalu. "Hai, aku Fey," kata gadis itu. Michael hanya memandangnya tanpa berkedip. Mulutnya terkunci. Selalu begitu jika di depan gadis yang disukainya. "Sampai nanti." Akhirnya Fey pun berlalu dengan kening berkerut.
Langganan:
Postingan (Atom)